Geografi merupakan pengetahuan yang mempelajarai fenomena geosfer
dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks
wilayah. Berdasarkan definisi geografi tersebut ada dua hal penting yang
perlu dipahami, yaitu:
obyek studi geografi (Obyek studi geografi adalah fenomena geosfere
yang meliputi litosfere, hidrosfera, biosfera, atmosfera, dan
antrophosfera), dan
pendekatan geografi.
Mendasarkan pada obyek material ini, geografi belum dapat menunjukan
jati dirinya. Sebab, disiplin ilmu lain juga memiliki obyek yang sama.
Perbedaan geografi dengan disiplin ilmu lain terletak pada
pendekatannya. Sejalan dengan hal itu Hagget (1983) mengemukakan tiga
pendekatan, yaitu:
-pendekatan keruangan,
-pendekatan kelingkungan, dan
-pendekatan kompleks wilayah
a. Pendekatan Keruangan.
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka
analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi
ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial
structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess)
(Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan
strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan
elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan
dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features),
(2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal
features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada
permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu
dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan
manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu
selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan
datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk
ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan
sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan
keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern,
random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk
kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985;
Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang
(linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern),
kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang
(rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern),
kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari
beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu
disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk
ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu
terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal
ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar
analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan dapat dicontohkan sebagai berikut.
“….belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu
terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan
permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?
Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang
kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada
tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan
hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi
fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah
itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan
kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona
berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai,
landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona
tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk
konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi
kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung
dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman
pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di
wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata
pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan
kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk
pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat.
Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya,
pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat
interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di
situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.
b. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach).
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang,
namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel
lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka
analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan
lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan (1) fenomena
yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan
manusia. (2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan
nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi
sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu
lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena
(phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu
pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek
penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan
budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan
nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah
perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan
manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup
penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan
lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik
termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer
tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang
kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam
pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis
geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon
Malang. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat
diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi
fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam
identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk
mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup
di lokasi itu. (2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku
masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. (3)
mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya). (4)
menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak
yang ditimbulkan. (5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan
yang terjadi.
Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingungan mendapat peran yang
penting untuk memahami fenomena geosfer. Dengan pendekatan itu fenomena
geosfer dapat dipahami secara holistik sehingga pemecahan terhadap
masalah yang timbul juga dapat dikonsepsikan secara baik.
c. Pendekatan Kompleks Wilayah
Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan
elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah
lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan.
Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor
determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan
memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan
secara lebih luas dan kompleks pula.
Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan
menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan
kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh
karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka
kajian bersifat hirisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan
analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat
vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara
wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan
fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah,
sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan
yang multivariate juga.
Kerangka umum analisis pendekatan kompleks wilayah dapat dicontohkan sebagai berikut.
Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah
urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua
wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat
dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1. menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2. menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3. menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota
Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi
Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu
(sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method).
Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi
dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan
ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan,
pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.
1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran,
penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan
dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari
data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi
jalan dan sungai.
2. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu
permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan
aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
3. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan
masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel
fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama
lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara
pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan
antara keduanya.
Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan
dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang
terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala
dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara
berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi
terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai
alternatif-alternatif pemecahan.
Pendekatan-Pendekatan Geografi
Geografi merupakan pengetahuan yang mempelajarai fenomena geosfer
dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks
wilayah. Berdasarkan definisi geografi tersebut ada dua hal penting yang
perlu dipahami, yaitu:
obyek studi geografi (Obyek studi geografi adalah fenomena geosfere
yang meliputi litosfere, hidrosfera, biosfera, atmosfera, dan
antrophosfera), dan
pendekatan geografi
Mendasarkan pada obyek material ini, geografi belum dapat menunjukan
jati dirinya. Sebab, disiplin ilmu lain juga memiliki obyek yang sama.
Perbedaan geografi dengan disiplin ilmu lain terletak pada
pendekatannya. Sejalan dengan hal itu Hagget (1983) mengemukakan tiga
pendekatan, yaitu:
pendekatan keruangan,
pendekatan kelingkungan, dan
pendekatan kompleks wilayah
Pendekatan- pendekatan geografi
1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis
yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang
dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial
structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess)
(Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur,
pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan
elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan
dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features),
(2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal
features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada
permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu
dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tersebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk seperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits what? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia.
Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu
dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.(
makalah kelompok 1 xa )
2. Pendekatan kelingkungan
Pendekatan ekologi/lingkungan merupakan pendekatan berdasarkan interaksi
yang terjadi pada lingkungan.Pendekatan ekologi dalam geografi
berkenaan dengan hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan
fisiknya.Interaksi tersebut membentuk sistem keruangan yang dikenal
dengan Ekosistem.Salah satu teori dalam pendekatan atau analisi ekologi
adalah teori tentang lingkungan.Geografi berkenaan dengan interelasi
antara kehidupan manusia dan faktor fisik yang membentuk sistem
keruangan yang menghubungkan suatu region dengan region lainnya.Adapun
ekologi, khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara
manusia dan lingkungan yang membentuk sistem ekologi atau ekosistem.
Dalam analisis ekologi, kita mencoba menelaah interaksi antara manusia
dengan ketiga lingkungan tersebut pada suatu wilayah atau ruang
tertentu.Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingkungan memiliki
peranan penting untuk memahami fenomena geofer.
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang,
namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel
lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka
analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan
lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan:
(1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia.
(2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi
sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu
lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena
(phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu
pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek
penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan
budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan
nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah
perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan
manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup
penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan
lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik
termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer
tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang
kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam
pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis
geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang.
Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali
dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di
lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi
itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi
jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu.
(2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut.
(3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya).
(4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan.
(5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.( makalah kelompok 2 XG)
3. Pendekatan Kewilayahan
dalam pendekatan kewilayahan, yang dikaji tentang penyebaran fenomena,
gaya dan masalah dalam keruangan, interaksi antara variabel manusia dan
variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu
sama lainnya.
pendekatan ini merupakan pendekatan keruangan dan lingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.
kesimpulannya:
pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahana dalam kerjanya
merupakan satu kesatuan yang utuh. pendekatan yang terpadu inilah yang
disebut pendekatan geografi. jadi fenomena, gejala, dan masalah ditinjau
penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem
dalam ruang. penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan
permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif- alternatif
pemecahan masalah.
1. Pendekatan keruangan (spatial approach)
Pendekatan analisis keruangan merupakan pendekatan khas geografi dengan
mengkaji variasi fenomena alam dipermukaan bumi. Pendekatan keruangan
terdiri atas pendekata topik, pendekatan aktivitas manusia, dan
pendekatan regional.
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertolak dari permasalahan
tentang susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Analisis dilakukan dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
- What ? struktur ruang apa?
- Where? Dimana struktur ruang tersebut berada?
- When? Kapanstruktur ruang tersebut dapat terbentuk seperti itu?
- How? Bagaimana proses terbentuknya struktur ruang tersebut?
- Who suffers what dan who benefits what? Bagaimana struktur ruang
tersebut dapat didiayagunakan sedmikian rupa untuk kepentingan manusia?
Ada beberapa teori dalam pendekatan keruangan ini, diantaranya adalah
teori difusi,yaitu mencoba menelaah perjalaran atau pemekaran fenomena
dalam ruang dan dimensi waktu tertentu.Tipe difusi antara lain:
- Difusi Ekspansi (Expansion diffusion), yaitu suatu proses dimana
informasi, material dan sebagainya menjalar melalui suatu populasi,dari
suatu daerah ke daerah lain.
- Difusi penampungan (Relocation diffusion), merupakan proses yang sama
dengan persebaran keruangan dimana informasi atau material yang
didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung
di daerah yang baru.
- Difusi Kaskade (cascade diffusion) yaitu, proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui beberapa tingkat atau hierarki.
2. Pendekatan lingkungan/ekologi (ecological approach)
Pendekatan ekologi/lingkungan merupakan pendekatan berdasarkan interaksi
yang terjadi pada lingkungan.Pendekatan ekologi dalam geografi
berkenaan dengan hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan
fisiknya.Interaksi tersebut membentuk sistem keruangan yang dikenal
dengan Ekosistem.Salah satu teori dalam pendekatan atau analisi ekologi
adalah teori tentang lingkungan.Geografi berkenaan dengan interelasi
antara kehidupan manusia dan faktor fisik yang membentuk sistem
keruangan yang menghubungkan suatu region dengan region lainnya.Adapun
ekologi, khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara
manusia dan lingkungan yang membentuk sistem ekologi atau ekosistem.
Dalam analisis ekologi, kita mencoba menelaah interaksi antara manusia
dengan ketiga lingkungan tersebut pada suatu wilayah atau ruang
tertentu.Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingkungan memiliki
peranan penting untuk memahami fenomena geofer.
3. Pendekatan analisis kompleks wilayah (regional complex approach)
Pendekatan kompleks kewilayahan merupakan kombinasi pendekatan keruangan
dan ekologi.Pendekatan kompleks kewilayahan mengkaji karakteristik
fisik maupun sosial dari fenomena yang terjadi dipermukaan bumi yang
berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya.Oleh karena itu
pendekatan ini lebih menekankan pada perbedaan wilayah, yaitu dalam
peramalan suatu wilayah dan perancangan wilayah merupakan aspek-aspek
dalam analisis kompleks wilayah.
PENDEKATAN GEOGRAFI
Sebagai suatu disiplin ilmu, geografi mempelajari suatu system alam yang
terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait. Aliran energi dalam
suatu sistem menghasilkan perubahan. Perubahan yang berkesinambungan
akan menghasilkan suatu bentuk keseimbangan sistem.
Suatu sistem mempunyai tiga bagian yang berbeda, yaitu bagian komponen,
bagian input, dan bagian output. Salah satu contoh sistem sederhana yang
banyak diketahui dan dikenal luas adalah sistem hi-fi. Suatu sistem
hi-fi tersusun dari beberapa komponen seperti amplifier, speaker, radio,
tape, dan pemutar ”Compact Disk” (CD). Ketika kita menghubungkan sistem
hi-fi dengan aliran listrik dan menghidupkannya, energi listrik
mengalir melalui system serta menghidupkan seluruh komponen. Aliran
energi ini disebut dengan input, sedangkan outputnya adalah musik yang
kita dengar.
Pada sistem yang berfungsi baik, seluruh komponen harus tersambung
bersama. Planet Bumi yang mempunyai banyak komponen dapat dilihat
sebagai sistem yang kompleks dan sangat besar. Di dalam sistem Bumi,
input adalah energi yang datang dari Matahari dan juga energi yang
berasal dari dalam Bumi, seperti tenaga tektonik. Output adalah
perubahan konstan yang dapat dilihat di sekitar kita dalam lingkungan
fisik dan manusia, seperti panas serta hujan.
Sistem Bumi memang suatu sistem yang kompleks, sehingga cara terbaik
untuk mempelajarinya dengan memahami setiap komponen-komponennya dengan
berbagai pendekatan dalam geografi. Inilah geografi dari sudut
pendekatan sistem. Pendekatan ini terus mengalami perkembangan hingga
masa geografi modern.
Dalam geografi modern yang dikenal dengan geografi terpadu (Integrated
Geography) digunakan tiga pendekatan atau hampiran. Ketiga pendekatan
tersebut, yaitu analisis keruangan, kelingkungan atau ekologi, dan
kompleks wilayah.
1. Pendekatan Keruangan
Dari namanya dapat ditangkap bahwa pendekatan ini akan menekankan pada
keruangan. Pendekatan ini mendasarkan pada perbedaan lokasi dari
sifat-sifat pentingnya seperti perbedaan struktur, pola, dan proses.
Struktur keruangan terkait dengan elemen pembentuk ruang yang berupa
kenampakan titik, garis, dan area. Sedangkan pola keruangan berkaitan
dengan lokasi distribusi ketiga elemen tersebut. Distribusi atau agihan
elemen geografi ini akan membentuk pola seperti memanjang, radial, dan
sebagainya. Nah, proses keruangan sendiri berkenaan dengan perubahan
elemen pembentuk ruang. Ahli geografi berusaha mencari faktor-faktor
yang menentukan pola penyebaran serta cara mengubah pola sehingga
dicapai penyebaran yang lebih baik, efisien, dan wajar. Analisis suatu
masalah menggunakan pendekatan ini dapat dilakukan dengan pertanyaan 5W
1H seperti berikut ini.
a. Pertanyaan What (apa), untuk mengetahui jenis fenomena alam yang terjadi.
b. Pertanyaan When (kapan), untuk mengetahui waktu terjadinya fenomena alam.
c. Pertanyaan Where (di mana), untuk mengetahui tempat fenomena alam berlangsung.
d. Pertanyaan Why (mengapa), untuk mengetahui penyebab terjadinya fenomena alam.
e. Pertanyaan Who (siapa), untuk mengetahui subjek atau pelaku yang menyebabkan terjadinya fenomena alam.
f. Pertanyaan How (bagaimana), untuk mengetahui proses terjadinya fenomena alam.
Salah satu contoh kasus fenomena atau gejala alam adalah gempa bumi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Jawa Tengah, pada tanggal 27 Mei 2006. Gempa bumi merupakan suatu fenomena alam yang sangat merugikan
manusia. Analisis peristiwa gempa bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan berikut.
a. Apa fenomena alam yang terjadi?
Gempa bumi
b. Kapan terjadinya?
27 Mei 2006.
c. Di mana terjadi gempa bumi tersebut?
Sebagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
d. Mengapa terjadi peristiwa itu?
Peristiwa tersebut terjadi karena adanya pergerakan lempeng tektonik.
e. Siapa atau apa yang menyebabkannya?
Adanya tumbukan antara dua lempeng tektonik.
f. Bagaimana gempa bumi itu dapat terjadi?
Indonesia terletak di antara tiga lempeng tektonik yang terus bergerak.
Ketiga lempeng tersebut adalah lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan
Pasifik. Lempeng tersebut terus bergerak. Apabila terjadi tumbukan
lempeng mengakibatkan gempa bumi. Peristiwa gempa bumi di Yogyakarta
terjadi karena tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Tumbukan
tersebut menyebabkan lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng
Eurasia di zona subduksi.
Nah, dengan cara seperti ini kamu bisa menganalisis suatu gejala alam
yang terjadi di sekitar wilayahmu. Bahkan bencana alam yang akhir-akhir
ini mendera bangsa kita. Sebagai perbandingan, kamu akan diberikan satu
contoh lagi mengenai penggunaan pendekatan ini dalam analisis masalah
geografi yang lain, yaitu analisis terjadinya banjir di Jakarta. Untuk
kesekian kali Jakarta banjir lagi. Yang paling akhir, bencana ini
terjadi tanggal 1 Februari 2007. Banjir ini hampir merendam sebagian
Jakarta. Tahap pertama penerapan pendekatan keruangan dilakukan dengan
melihat struktur, pola, dan proses keruangan di wilayah-wilayah sekitar
Jakarta, seperti Bogor, kawasan puncak, dan Cianjur. Pada tahap ini
dapat diidentifikasi fenomena alam seperti kawasan hulu sungai. Setelah
itu, pada tahap kedua ilakukan zonasi berdasarkan karakteristik
kelerengannya, misalnya curam, agak landai, dan datar. Tahap ketiga
ditinjau ketepatan pemanfaatan lahan di tiap-tiap zona. Studi aspek
fisik ini perlu ditambahkan dengan karakteristik penduduk di wilayah
tersebut, seperti mata pencahariannya, tingkat pendidikan, keterampilan
yang dimiliki serta kebiasaannya. Melalui informasi ini dapat ditemukan
keterkaitan antara kondisi alam dan manusia dengan terjadinya banjir.
Pada akhirnya, dapat dirumuskan upaya penanggulangannya.
2. Pendekatan Kelingkungan atau Ekologi
Pendekatan ini tidak hanya mendasarkan pada interaksi organisme dengan
lingkungan, tetapi juga dikaitkan dengan fenomena yang ada dan juga
perilaku manusia. Karena pada dasarnya lingkungan geografi mempunyai dua
sisi, yaitu perilaku dan fenomena lingkungan. Sisi perilaku mencakup
dua aspek, yaitu pengembangan gagasan dan kesadaran lingkungan.
Interelasi keduanya inilah yang menjadi cirri khas pendekatan ini.
Menggunakan keenam pertanyaan geografi, analisis dengan pendekatan ini
masih bisa dilakukan. Nah, perhatikan contoh analisis mengenai
terjadinya banjir di Sinjai berikut dan kamu akan menemukan perbedaannya
dengan pendekatan keruangan. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan
kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut.
a. Identifikasi kondisi fisik yang mendorong terjadinya bencana ini, seperti jenis tanah, topografi, dan vegetasi di lokasi itu.
b. Identifikasi sikap dan perilaku masyarakat dalam mengelola alam di lokasi tersebut.
c. Identifikasi budi daya yang ada kaitannya dengan alih fungsi lahan.
d. Menganalisis hubungan antara budi daya dan dampak yang ditimbulkannya hingga menyebabkan banjir.
e. Menggunakan hasil analisis ini mencoba menemukan alternative pemecahan masalah ini.
3. Analisis Kompleks Wilayah
Analisis ini mendasarkan pada kombinasi antara analisis keruangan dan analisis ekologi. Analisis ini menekankan pengertian
”areal differentiation” yaitu adanya perbedaan karakteristik tiap-tiap
wilayah. Perbedaan ini mendorong suatu wilayah dapat berinteraksi dengan
wilayah lain. Perkembangan wilayah yang saling berinteraksi terjadi
karena terdapat permintaan dan penawaran. Contoh analisis kompleks
wilayah diterapkan dalam perancangan kawasan permukiman. Langkah awal,
dilakukan identifikasi wilayah potensial di luar Jawa yang memenuhi
persyaratan minimum, seperti kesuburan tanah dan tingkat kemiringan
lereng. Langkah kedua, identifikasi aksesibilitas wilayah. Dari hasil
identifikasi ini dirumuskan rancangan untuk jangka panjang dan jangka
pendek untuk pengembangan kawasan tersebut.
Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala
di muka bumi dan peristiwa peristiwa yang terjadi di muka bumi, baik
yang fisik maupun yang menyangkut makhluk hidup beserta permasalahannya
melalui pendekatnn keruangan, ekologi, dan regional untuk kepentingan
program, proses, dan keberhasilan pembangunan. Konteks geografi ternyata
membicarakan dan membahas tentang aspek kehidupan manusia dengan segala
perilakunya serta gejala fisik yang terjadi dalam rulIng stall.
Pengertian ruang merupakan suatu tempat yang mewujudkan keberadaan
dirinya yang bersifat fisik ataupun yang bersifat hubungan-hubungan
sosial serta memiliki perbedaan dan persamaan aspek kehidupan yang ads
dalam ruang tersebut. Ruang mencerminkan adanya hubungan fungsional
antara gejala obyek-obyek yang ada dalam ruang itu sendiri. Sebab itulah
diperlukan analisis keruangan dalam rangka mengkaji gejala-gejala yang
mill dalam rlmng (space). Space terdiri dari: (1) physical space dan (2)
social space. Dalam hal mengkaji perbedaan-perbedaan dan
persamaan-persamaan yang ada dalam ruang dengan segala obyeknya
merupakan tugas geografi.